Anak Petani
Ari setiawan, sebuah nama sederhana yang diberikan oleh orang tuanya. Nama ari diambil dari nama ahir dari bulan kelahirannya yaitu januar, dan setiawan diberikan sebagai sebuah harapan agar kelak menjadi orang yang setia kawan. Dan juga kebetulan lahirnya ketika siang yang kata orang jawa disebut dengan awan. Ia lahir di sebuah pelosok kampung bernama Sidomulyo di kabupaten Lampung Tengah, tepatnya pada 27 Februari 1990.
Ari setiawan, sebuah nama sederhana yang diberikan oleh orang tuanya. Nama ari diambil dari nama ahir dari bulan kelahirannya yaitu januar, dan setiawan diberikan sebagai sebuah harapan agar kelak menjadi orang yang setia kawan. Dan juga kebetulan lahirnya ketika siang yang kata orang jawa disebut dengan awan. Ia lahir di sebuah pelosok kampung bernama Sidomulyo di kabupaten Lampung Tengah, tepatnya pada 27 Februari 1990.
Ari (panggilan kecilnya) bukanlah anak orang kaya atau pun pejabat melainkan anak dari seorang petani sederhana. Ari adalah anak bungsu dari lima bersaudara yang kesemuanya laki-laki. Ayahnya bernama Riban, kelahiran tahun 1946 atau satu tahun setelah kemerdekaan dan ibunya bernama Waridah kelahiran tahun 1954. Kedua orang tua Ari hanya tamatan SR atau setara SD. Sebelum menjadi petani, ayahnya adalah seorang buruh tani dan kadang-kadang menjadi buruh lepas di pembangun jalan yang dilaksanakan oleh PU. Sedangkan ibunya menjadi buruh tanam padi. Kadang apapun pekerjaannya itu akan mereka lakoni asal halal dan bisa memenuhi kehidupan dan sekolah anak-anaknya. Mungkin pekerjaan itulah yang pantas untuk orang-orang yang berpendidikan rendah.
Awan (panggilan akrabnya saat ini) semasa kecilnya selalu dibawa ke sawah-ladang. Karena memang orang tuanya adalah petani yang kerjanya dari siang sampai sore sehingga tidak memungkinkan untuk dititipkan. Hinga pada suatu hari sebuah musibah menimpa Awan, dia harus dilarikan ke Puskesmas (Rumah sakit terlalu jauh) karena kakinya terbakar masuk di kubangan api pembakaran kulit kelapa ketika bermain di lading. Kaki Awan melepuh dan sudah tak terlihat jemarinya. Kurang lebih 4 bulan lamanya ia tidak bisa jalan, selama itupu ia harus digendong kemanapun pergi. Saat kejadian itu awan baru berumur 3 tahun.
Masa-masa Sekolah
Pada umur 7 tahun, Awan pun akhirnya masuk SD walaupun setahun sebelumnya ia ditolak masuk karena badanya yang kecil kurang gizi karena sejak kecil di keluarganya hanya bisa makan nasi oyek (nasi yang terbuat dari singkong)dengan lauk termewahnya adalah ikan asin dan tempe. Tidak jarang keluarganya hanya makan nasi oyek dan garam saja. juara kelas. Menurut guru disekolahnya Awan merupakan anak yang cukup menonjol dikelasnya. Itu terlihat semenjak duduk di kelas 2 SD Awan sering jadi juara kelas. Sebenarnya ia menonjol sejak dari awal masuk sekolah terutama dalam hal kelancaran menghitung dan menulis yang sudah ia kuasai dari setahun sebelum masuk sekolah. Mungkin karena minder, jadi saat itu belum bisa jadi juara kelas.
Pada umur 7 tahun, Awan pun akhirnya masuk SD walaupun setahun sebelumnya ia ditolak masuk karena badanya yang kecil kurang gizi karena sejak kecil di keluarganya hanya bisa makan nasi oyek (nasi yang terbuat dari singkong)dengan lauk termewahnya adalah ikan asin dan tempe. Tidak jarang keluarganya hanya makan nasi oyek dan garam saja. juara kelas. Menurut guru disekolahnya Awan merupakan anak yang cukup menonjol dikelasnya. Itu terlihat semenjak duduk di kelas 2 SD Awan sering jadi juara kelas. Sebenarnya ia menonjol sejak dari awal masuk sekolah terutama dalam hal kelancaran menghitung dan menulis yang sudah ia kuasai dari setahun sebelum masuk sekolah. Mungkin karena minder, jadi saat itu belum bisa jadi juara kelas.
Untuk membeli tas dan jajannya Awan berusaha tidak meminta orang tua. Maka saat itu ia sering menabung dari hasil usaha berjualan es balon setelah pulang sekolah dan mecari botol bekas saat liburan untuk dijual sebagai tambahannya. Semenjak jadi juara kelas ia tidak lagi membeli buku karena setiap caturwulan ia pasti dapat hadiah buku dari sekolah. Untuk sepatunya juga ia dapat hadiah dari seorang guru yang tinggal bersebelahan dari rumahnya karena Awan sepulang sekolah sering menjaga anaknya saat guru tersebut masih harus mengajar disekolah. Ia juga tak malu-malu berkeliling kampong menjajakan sayuran seperti kacang panjang, terong dan kangkung hasil panen orang tuanya.
Saat tamat SMP Awan sempat bingung untuk melanjutkan ke SMA karena saat itu kondisi ekonomi keluarga tidak begitu baik. Ia sempat pesimis dengan keadaan itu, tapi untunglah kakak tertuanya yang sudah menikah dan tinggal di Lampug Selatan itu mau menyekolahkannya. Awan pun disekolahkan di SMAN 1 Natar. Saat itu pula awan harus pergi merantau dan jauh dari orang tua. Ia hanya bisa pulang kerumah 4-6 bulan sekali.
Di SMA itulah Awan mulai aktif dibeberapa organisasi intra sekolah seperti Rohis dan Osis, Tim Nasyid dan menjadi ketua Tim Sepak bola sekolah. Ia juga kadang suka berjualan keripik singkong, nasi uduk dan minuman untuk teman-teman sekelasnya. Karena keaktifannya itulah ia juga pernah mewakili sekolahnya dibeberapa perlombaan. Meskipun tidak pernah sekalipun menjadi juara tapi ia pernah jadi 10 nominator terbaik pada lomba menulis cerpen tingkat provinsi dan mempunyai kesempatan untuk bisa masuk ke sebuah pusat konservasi badak sumatera (SRS) yang saat itu sangat tertutup untuk umum. Meskipun hal tersebut bukanlah hal yang luarbiasa nama bagi Awan itu adalah sebuah kebanggaan. Karena keaktifan dan prestasi kecilnya itulah ia terpilih menjadi salah satu dari tiga orang siswa yang akan diusulkan sekolah untuk menerima Beasiswa Masuk Universitas (BMU) dari Dikti. BMU adalah cikal bakal beasiswa bidik misi saat ini. Namun saat itu beasiswa hanya untuk pembayaran daftar ulang satu semester saja. Dan syarat untuk mendapatkannya selain rekomendasi sekolah dan lulus UN maka Awan juga harus benar-benar lulus pada sleksi SNMPTN nantinya.
Langkah kaki menuju Perguruan Tinggi
Hari kelulusan pun tiba, Awan pun bersyukur bisa lulus UN dengan baik. Surat kelulusan verifikasi dari Dikti pun sudah dikirim kesekolah dan ia terima bersamaan dengan pembagian ijazah. Surat itu pun harus segera dipakai untuk mendaftar SNMPTN sesuai jadwal yang ditentukan. Mendapat surat rekomendasi dari dikti bukan berarti perjalan Awan mendaftar SNMPTN itu berjalan mulus. Saat mendaftar ternyata saat itu Awan harus mengeluarkan biaya registrasi pendaftaran SNMPTN sebesar 150 ribu rupiah. Awan mulai kebingungan karena saat itu ia hanya memiliki uang 20 ribu rupiah. Sedangkan ia tidak sempat pulang intuk meminta pada orang tuanya, kakaknya pun tidak bisa membantu karena juga habis mendaftarkan anaknya masuk SD. Sedangkan dari pihak Dikti hanya akan mengganti semua biaya administrasinya jika sudah lulus SNMPTN. Sedangkan waktu pendaftaranya sudah tidak bisa diundur karena memang sudah terjadwal. Dengan perjuangan meminjam kesana kemari pada teman-teman dekatnya akhirnya uang itu terkumpul juga dan pendaftaran pun selesai tinggal menunggu jadwal tes SNMPTN dilaksanakan.
Waktu tes SNMPTN pun tiba, menjadi sangat mendebarkan bagi awan karena itu adalah satu-satunya kunci kesempatannya untuk meraih cita-citanya menjadi Sarjana. Ia mengambil 2 pilihan jurusan IPA yaitu pilihan pertama Pendidikan Biologi FKIP dan pilihan ke dua Agroteknologi Pertanian Universitas lampung. Tes itu pun ia lalui dengan keseriusan dan kerja keras menghadapi soal-soal tes yang baginya super sulit.
Setelah tes SNMPTN tersebut akhirnya Awan pulang dan tinggal di rumah setelah 3 tahun ikut kakak tertuanya. Namun saat tinggal dirumah itulah keraguannya muncul dan rasa pesimis mulai menghatuinya. Pasalnya orangtua dan kakak-kakaknya benar-benar tidak bisa membantu menguliahkanya di universisat lain jika kesempatannya itu gagal. Rasa pesismisnya itu ditambah dengan begitu ketatnya persaingan untuk masuk keguruan karena saat itu keguruan menjadi favorit bagi setiap mahasiswa yang mendaftar SNMPTN.
Setelah sebulan lamanya menunggu hasil tes itu ,akhirnya tiba juga waktu pengumuman itu. melalui penguman yang disampaikan online. ternyata tak satupun no tesnya terpapar dipengumuman tersebut. . Awan mulai lemas dan pasrah karena ia mengira benar-benar tidak lulus tes. Tapi seakan tidak percaya, dengan menempelkan lekat-lekat kartu no tes yang pegang seketika itupun ia berucap syukur alhamdulilah karena ada sutu nomor yang ada di deret ujung halaman pengumuman ada nomor yang cocok dengan nomor tesnya yang menandakan ia benar-benar lulus. Meskipun iya hanya diterima pada pilihan keduanya yaitu jurusan S1 Agroteknologi Pertanian. Namun saat itu Awan meyakini bahwa itu adalah jurusan terbaik pilihan Allah Swt dan suatu saat pasti ia jadi sarjana pertanian yang memang lahir dari anak seorang petani.
Setelah dinyatakan lulus kemudian Awan pun kembali tinggal ditempat kakaknya dan akan kembali merantau meninggalkan orang tuanya untuk waktu yang tidak bisa ditentukan atau secepat-cepatnya paling tidak 5 tahun kedepan ia akan jarang ketemu kedua orang tuannya. Semester demi semester ia lalui dan kesulitan demi kesulitan ia hadapi, sebagai mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu semakin mendorongya untuk memenuhi hidupnya dengan berusaha berjualan apapun seperti jualan, pulsa, kripik pisang dan jual boneka ia pernah alami.
Sebuah Titik Balikseperti teman-teman mahasiswa lain pada umumnya, Awan pun kembali aktif mengikuti berbagai organisasi intra kampus untuk menambah pengetahuan, pengalaman dan kepercayaan dirinya bahawa ia juga bisa setara dengan mahasiwa lain yang notabenenya banyak dari kalangan keluarga mapan terhormat.semenjak masuk kuliah hingga semester 5 ia mengikuti berbagai organisasi seperti Perma AGT, UKM FOSI FP dan BEM Universitas yang semuanya hanya menjadi anggota biasa saja.
Pada pertengahan September 2011 ada sebuah titik balik besar yang mulai mengubah hidupnya. Awan saat itu terpilih menjadi delegasi utusan provinsi Lampung pada ajang Kepemudaan nasional Kemenpora RI pada acara Kapal Pemuda Nusantara (KPN) tahun 2011. Acara tersebut berlangsung selama kurang lebih 25 hari diatas sebuah kapal perang RI berkeliling nusantara bagian barat dengan rute Jakarta-kepulauan Natuna-Batam-Riau-Bangka-Belitung Jakarta. Perjalanan itulah membukakan matanya melihat luasnya Indonesia dan mewujudkan salah satu mimpinya untuk berkeliling Indonesi. Namun perjalanan itu meliki resiko besar yaitu akademik terganggu selama satu semester lamanya.
Setelah selesai mengikuti program KPN tersebut, mulailah kepercayaan besar dari organisasi yang ia ikuti satu persatu jatuh padahnya. Mulai dari amanah menjadi kepala bidang dan staf di UKM FOSI FP, kemudian tahun berikutnya yaitu tahu 2012 malah ada tiga amanah sekaligus yang jatuh padanya, yaitu menjadi sekjen Badan Pengurus Wilayah II Sumbagsel untuk IkatanMahasiswa Muslim Pertanian Indonesia (IMMPERTI), menjadi Mentri dalam Negeri BEM U KBM Unila dan Koordinator untuk Sahabat Pulau Lampung.
Menjadi Koordinator Sahabat Pulau Lampung (SPL) bermula dari kemauannya mengikuti saran dan ajakan dari seorang teman saat mengikuti program KPN bernama Hendriyadi untuk mendirikan sebuah komunitas pemuda di bidang pendidikan dan mebangun rumah-rumah baca untuk daerah terpencil dan pulau-pulau di Lampung. Hendriyadi adalah seorang penggagas dan pendiri Sahabat Pulau Indonesia.
Menjadi Koordinator Sahabat Pulau Lampung (SPL) bermula dari kemauannya mengikuti saran dan ajakan dari seorang teman saat mengikuti program KPN bernama Hendriyadi untuk mendirikan sebuah komunitas pemuda di bidang pendidikan dan mebangun rumah-rumah baca untuk daerah terpencil dan pulau-pulau di Lampung. Hendriyadi adalah seorang penggagas dan pendiri Sahabat Pulau Indonesia.
Awan memulai mendirikan SPL dengan cara mengajak teman-teman dekatnya untuk bergabung bersamanya. Saat itu modalnya hanyalah beberapa lembar kertas konsep tentang konsep dan kerja komunitas Sahabat Pulau yang diberikan hendriyadi. Awan lakukan sosialisasi dan ajakan tersebut dengan cara langsung ketemu bertatap muka atau dari mulut ke mulut pada teman-teman dekatnya. walapun saat itu dia sendiri tidak begitu paham dengan konsep tersebut namun ia bergerak karena keyakinannya bahwa apa yang ada itu dapat terwujud. Namun yang ia dapat saat itu hanyalah sebatas dukungan moral saja tanpa ada yang bersedia bergabung bersamanya.
Hari demi hari hingga bebrapa bulan Awan tidak lelah untuk mengajak teman-temannya, alhasil ia hanya bisa merekrut teman-temannya sebagai volunteer SPL hanya berjumlah 5 orang selama kurang lebih 3 bulan lamanya. Namun baginya 5 orang tersebut bagaikan emas yang suatu saat akan melapisi perak ataupun besi menjadi sepertinya juga. 5 orang tersebut kemudian oleh Awan dikumpulkan dan dijelaskan kembali apa yang menjadi konsep SPL dan mulai merealisasikannya sedikit demi sedikit seperti mengumpulkan buku dan mengajak teman-teman lainya. Ternyata benar, dari 5 orang tersebutlah kemudian tersebarlah virus-virus volunteer tersebut hingga akhirnya ada sekitar 30 volunteer terekrut dan sekitar 200 buku terkumpul.
Kemudian dari 30 an orang volunteer terebut dengan 200-an buku tersebut akhirnya mereka bersepakat untuk mendirikan sebuah rumah baca di pulau Pahawang di kabuten pesawaran pada tanggal 23-24 juni 2012. Agenda rutinnya yaitu setiap 2 minggu sekali para volunteer akan datang ke pulau untuk mengajar adik-adik yang telah menjadi adik asuh SPL. Hal itu dilakukan untuk menjaga keberlangsungan rumah baca agar berfungsi dengan baik. Ternyata kegiatan itu diterima dengan baik dan dihargai sebagai kegiatan sosial yang cukup inovatif sehingga hal tersebut kemudian diliput dan dimuat pada media kampus Teknokra dan berita harian daerah lainnya. Awan menilai dengan dimuatnya berita tersebut maka itu menjadi sebuah penghargaan untuk dirinya dan terutama pada para volunteer yang telah bekerja dengan baik.
Sebuah Apresiasi
Berjalan dengan baiknya program tersebut dan banyaknya pemberitaan yang muncul mengenai sepak terjang Awan dan komunitas SPL nya, lalu kisah Awan pun dimuatpada edisi khusus sebuah Koran ternama di Lampug. Sebuah halaman bertajuk Inspirasi dari Koran Lampung Post memuat dirinya satu halaman penuh pada tanggal 7 Desember 2012. Sebuah apresiasi besar bagi Awan seraya ingin menunjukan bahwa anak petani desa dari kampong pun bisa berkarya nyata dengan harapan hal tersebut bisa mengangkat harkat dan martabat orang tuanya.
Aksi Awan itu pun kembali menjadi sebuah topik khusus bertajuk ekspresi dari majalah kampus Teknokra sekitar pertengahan tahun 2013 yang kembali mengulas perjalanan Awan mendirikan komunitas dan rumah bacanya. Dengan diulas dan menjadi topik kusus tersebut, bagi Awan adalah sebuah apresiasi besar bagi dirinya yang semakin menguatkan dan mendorong semangatnya untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi Indonesia kususnya provinsi Lampung yang ia cintai.
Tapi Langkah Awan tidak terhenti dan puas hanya sampai itu saja. Atas keberhasilanya tersebut ia sangat yakin bahwa ia juga akan segera meraih salah satu mimpinya lagi yaitu mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yaitu ajang paling bergengsi di Indonesia pada tingkat mahasiswa. Keyakinak Awan tentang program rumah baca itu sangat baik dan layak untuk di apresiasi dan dicontoh dan dikembangkan diseluruh Indonesia, kemudian ia dan timnya pun tak ragu untuk mengikut sertakan rumah bacanya dalam gelaran akbar Pimnas tersebut. Alhasil ia lulus pada tahap seleksi berkas hingga monev dan di undang menjadi peserta PIMNAS mewakili Universitas lampung di Universitas Mataram, Lombok pada tanggal 9-13 September 2013.
Kini Awan benar-benar meraih impianya untuk berangkat mengikuti PIMNAS. Dan ternya bukan sekedar iampian mengikuti PIMNAS saja, tapi Awan dan tim nya juga membawa bonus besar. Bukan hanya untuk Awan dan timnya tapi juga untuk mengharumkan almamaternya Unila yaitu pulang dengan membawa oleh-oleh sebuah mendali juara setara perak. Kemenangannya itu diperoleh dari bidang PKM pengabdiaan masyarakat kategori poster. Ia menang dari sekitar 400an tim peserta dari seluruh kampus di Indonesia. Dengan prestasinya tersebut kini Awan tercatat sebagai mahasiswa pertama dan satu-satunya yang masuk PIMNAS dan menang memperoleh Perak kategori Pengabdian masyarakat dari Fakultas pertanian jurusan Agroteknologi hingga saat Ini. Karena di anggap cukup berprestasi dan mengharumkan nama Almamater Unila Akhrnya Rektor Dan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung memberikan penghargaan kepada Awan sebagai mahasiswa berprestasi tahun 2014 melalui momentuk Dies natalis Unila yang ke 48 dan Deis Natalis Fakultas Pertanian yang ke 40.
Pada tanggal 28 November 2013 untuk kedua kalinya Awan kembali masuk pada rubrik Inspirasi Lampung Post atas prestasi-prestasinya tersebut. Itu benar-benar luar biasa, karena mungkin hanya sedikit sekali mahasiswa yang bisa masuk dalam rubrik inspirasi tersebut. Atas prestasi dan aksi sosialnya tersebut awan digolongkan menjadi seorang tokoh dari kalangan mahasiswa yang dapat menginspirasi orang banyak. Atas dasar itulah kembali Lampung Post pada tanggal 20 Agustus 2014 mencantumkan nama Ari Setiawan (Awan) menjadi salah satu dari 50 tohoh inspiratif dalam sebuah buku yang berjudul Inspirasi : Merajut Lampung bermartabat. Termasuk tokoh didalamnya yaitu M. Ridho Ficardo gubernur Lampung, Brigjen Heru Winarko, Kapolda Lampung, Rico Mendoza SZP, Bupati Lampung Selatan dan 46 tokoh inspiratif lainya. Buku itu diluncurkan bersamaan puncak acara ulang tahun ke 40 Lampung Post. Benar-benar orang yang sangat luar biasa.
Namun saat ini sepertinya Awan tengah mengambil cutinya sebagai mahasiswa karena ia telah menandatangani kontrak kerjanya di daerah Jawa Barat. Mungkin ini juga salah satu prestasinya lagi, karena ia dengan mudah mendapat pekerjaan sebelum bergelar sarjana, sedangkan banyak sarjana di luar sana justru kesusahan mencari kerja. Karena hal itulah, kini koordinator Sahabat pulau telah diserahkan kepada saudara Indah Kusuma rini.
kita akan senantiasa menantikan Awan dengan aksi-aksi nyatasnya dan prestasi-prestasinya. Semoga profil Awan ini memiliki nilai nilai kebaikan dan member dorongan semangat untuk kita semua.
kita akan senantiasa menantikan Awan dengan aksi-aksi nyatasnya dan prestasi-prestasinya. Semoga profil Awan ini memiliki nilai nilai kebaikan dan member dorongan semangat untuk kita semua.
No comments:
Post a Comment